Jakarta – 24
November diperingati sebagai Hari Guru di Indonesia. Semakin hari, guru Indonesia
semakin sejahtera, semakin pandai, cerdas dan yang utama semakin tulus, ikhlas,
mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini adalah harapan seorang guru dan tentu
harapan semua orang yang sadar akan pendidikan.
Ibu guru
Neneng mengajar di Madrasah Tsanawiyah Arrahmah, Jakarta. Menjadi guru mata
pelajaran matematika. Beliau berkesempatan mendapatkan beasiswa dari Departemen
Agama untuk menamatkan S2 Terapan Matematika di Institut Pertanian Bogor. Ibu
Neneng juga aktif menjadi asatidz atau pengajar dalam kajian online agama
Islam. Ilmu yang dimilikinya bukan hanya matematika namun ilmu agama yang dalam
sehingga membuat kalimat yang dilontarkannya penuh makna.
“Saya jadi
guru mungkin awalnya mengikuti arah taqdir, tetapi seiring waktu berjalan saya
mulai menyadari betapa beruntungnya saya bisa menjadi seorang guru yang memberi
kesempatan saya untuk menuntun manusia generasi muda bangsa ini menuju arah
masa depan yg lebih cerah, sekaligus mengajarkan mereka akan nilai nilai kesyukuran,
kesabaran. dan ketegaran untuk meraih cita – cita tak hanya di dunia tapi
hingga sampai di akhirat yang kekal. Siapa tahu dari sekian banyak murid, ada
satu saja yg dia mengikuti jalan petunjuk lalu menjadi ahli surga, karena
ajaran kita. Mudah – mudahan itulah yang akan menyelamatkan saya kelak di
yaumil mahsyah, yaumil hisab.” Jelasnya tentang visi misi menjadi guru.
“Biarlah itu
menjadi tantangan. karena abadinya, ketulusan lah yang akan mengalirkan arus
kebaikan dalam diri murid.” Menyetujui kritik dari salah satu organisasi
relawan 1000 guru yang berbunyi "guru dibayar murah untuk mendidik akhlak
anak bangsa, tapi artis dibayar mahal untuk merusak akhlak mereka"
“Tantangan
seorang pengajar menurut saya selain mencari inovasi dan ilmu untuk
menyampaikan ilmu dan konsep konsep dasar berfikir terhadap siswa, juga tak
kalah penting adalah menghadapi sikap dan perilaku siswa yg beraneka ragam. Terlebih
saat ini arus informasi begitu deras sedang yang lebih banyak dikonsumsi siswa
adalah informasi yang negatif. Sangat memprihatinkan untuk saya adalah norma
sopan santun, kejujuran, generasi hari ini sedang krisis dalam diri mereka.
Selain itu juga mereka mengalami krisis kepercayaan diri, cita – cita, dan
prilaku disiplin. Disisi lain keburukan moral lingkungan, tv, dan budaya yg
kebablasan jg belum bs disikapi anak – anak secara bijak, akhirnya mereka
hanyalah pengguna teknologi dan informasi yg menjadi pengikut saja. Oleh
karenanya mudah sekali didapati kurangnya kepekaan, persaudaraan, dan sopan
santun. Ditambah budaya belajar yg sangat minim karena lemahnya pengkondisian
di lingkungan sekolah ataupun rumah. Berbeda dengan generasi saya yang masih
menempatkan guru sebagai panutan yg cukup di segani dan dituruti. Budaya
tertib, budaya sopan santun masih ada.” Keluhnya menghadapi tantangan mengajar
saat ini.
Ibu guru
Neneng tidak hanya mengeluh sebuah tantangan mengajar anak didik saat ini tapi
beliau juga menerangkan dengan caranya mengatasi hal tersebut. “Mengatasi
tantangan yang jelas kita harus punya semangat perbaikan, dan ketulusan. Menjadi
guru harus lahir dari hati dari jiwa. Karena kejujuran dan ketulusan akan
sampai pada hati para siswa, yg selanjutnya adalah membangun pengkondisian yang
baik. Membuat siswa siap belajar di kelas, antara lain dengan membiasakan
tertib, tidak berisik, rapi dan yang utama adalah memberi tauladan akan
kejujuran dan kerja keras. Jangan patah semangat untuk memberi semangat.”
Terangnya.
“Bagi calon guru,
cintailah profesi guru kalian, karena tanpanya, sebaik apapun ilmu hanya menjadi
tulisan di buku dan di papan tulis, tapi jika ilmu berasal dari cinta, dia akan
mengalirkan semangat dan arus kebaikan bagi siapapun yg pernah bersentuhan
dengannya. Jangan menjadi guru untuk mencari dunia jadilah guru dermawan, jadilah yg paling banyak sedekah, jadilah
guru yg menginginkan kebaikan dan berbuatlah perbaikan itu dari manusianya. Satu
manusia yang kita perbaiki sesungguhnya kita telah membangun, memperbaiki
manusia keseluruhannya in sha Alloh.” Jelasnya memberikan wejangan bagi calon
guru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar