Social Icons

Senin, 08 Desember 2014

Menjadi Guru Harus Lahir dari Hati, dari Jiwa

Jakarta – 24 November diperingati sebagai Hari Guru di Indonesia. Semakin hari, guru Indonesia semakin sejahtera, semakin pandai, cerdas dan yang utama semakin tulus, ikhlas, mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini adalah harapan seorang guru dan tentu harapan semua orang yang sadar akan pendidikan.

Ibu guru Neneng mengajar di Madrasah Tsanawiyah Arrahmah, Jakarta. Menjadi guru mata pelajaran matematika. Beliau berkesempatan mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama untuk menamatkan S2 Terapan Matematika di Institut Pertanian Bogor. Ibu Neneng juga aktif menjadi asatidz atau pengajar dalam kajian online agama Islam. Ilmu yang dimilikinya bukan hanya matematika namun ilmu agama yang dalam sehingga membuat kalimat yang dilontarkannya penuh makna.
“Saya jadi guru mungkin awalnya mengikuti arah taqdir, tetapi seiring waktu berjalan saya mulai menyadari betapa beruntungnya saya bisa menjadi seorang guru yang memberi kesempatan saya untuk menuntun manusia generasi muda bangsa ini menuju arah masa depan yg lebih cerah, sekaligus mengajarkan mereka akan nilai nilai kesyukuran, kesabaran. dan ketegaran untuk meraih cita – cita tak hanya di dunia tapi hingga sampai di akhirat yang kekal. Siapa tahu dari sekian banyak murid, ada satu saja yg dia mengikuti jalan petunjuk lalu menjadi ahli surga, karena ajaran kita. Mudah – mudahan itulah yang akan menyelamatkan saya kelak di yaumil mahsyah, yaumil hisab.” Jelasnya tentang visi misi menjadi guru.
“Biarlah itu menjadi tantangan. karena abadinya, ketulusan lah yang akan mengalirkan arus kebaikan dalam diri murid.” Menyetujui kritik dari salah satu organisasi relawan 1000 guru yang berbunyi "guru dibayar murah untuk mendidik akhlak anak bangsa, tapi artis dibayar mahal untuk merusak akhlak mereka"
“Tantangan seorang pengajar menurut saya selain mencari inovasi dan ilmu untuk menyampaikan ilmu dan konsep konsep dasar berfikir terhadap siswa, juga tak kalah penting adalah menghadapi sikap dan perilaku siswa yg beraneka ragam. Terlebih saat ini arus informasi begitu deras sedang yang lebih banyak dikonsumsi siswa adalah informasi yang negatif. Sangat memprihatinkan untuk saya adalah norma sopan santun, kejujuran, generasi hari ini sedang krisis dalam diri mereka. Selain itu juga mereka mengalami krisis kepercayaan diri, cita – cita, dan prilaku disiplin. Disisi lain keburukan moral lingkungan, tv, dan budaya yg kebablasan jg belum bs disikapi anak – anak secara bijak, akhirnya mereka hanyalah pengguna teknologi dan informasi yg menjadi pengikut saja. Oleh karenanya mudah sekali didapati kurangnya kepekaan, persaudaraan, dan sopan santun. Ditambah budaya belajar yg sangat minim karena lemahnya pengkondisian di lingkungan sekolah ataupun rumah. Berbeda dengan generasi saya yang masih menempatkan guru sebagai panutan yg cukup di segani dan dituruti. Budaya tertib, budaya sopan santun masih ada.” Keluhnya menghadapi tantangan mengajar saat ini.
Ibu guru Neneng tidak hanya mengeluh sebuah tantangan mengajar anak didik saat ini tapi beliau juga menerangkan dengan caranya mengatasi hal tersebut. “Mengatasi tantangan yang jelas kita harus punya semangat perbaikan, dan ketulusan. Menjadi guru harus lahir dari hati dari jiwa. Karena kejujuran dan ketulusan akan sampai pada hati para siswa, yg selanjutnya adalah membangun pengkondisian yang baik. Membuat siswa siap belajar di kelas, antara lain dengan membiasakan tertib, tidak berisik, rapi dan yang utama adalah memberi tauladan akan kejujuran dan kerja keras. Jangan patah semangat untuk memberi semangat.” Terangnya.
“Bagi calon guru, cintailah profesi guru kalian, karena tanpanya, sebaik apapun ilmu hanya menjadi tulisan di buku dan di papan tulis, tapi jika ilmu berasal dari cinta, dia akan mengalirkan semangat dan arus kebaikan bagi siapapun yg pernah bersentuhan dengannya. Jangan menjadi guru untuk mencari dunia jadilah guru dermawan,  jadilah yg paling banyak sedekah, jadilah guru yg menginginkan kebaikan dan berbuatlah perbaikan itu dari manusianya. Satu manusia yang kita perbaiki sesungguhnya kita telah membangun, memperbaiki manusia keseluruhannya in sha Alloh.” Jelasnya memberikan wejangan bagi calon guru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar